Arief108
1. Berorientasi
pada kebutuhan dan karakteristik murid
Guru perlu mengenali kemampuan awal, minat, gaya
belajar, latar belakang keluarga, serta kebutuhan setiap anak.
Praktik: Melakukan asesmen diagnostik sederhana dan
memberikan aktivitas belajar dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.
2. Menghadirkan
pembelajaran yang kontekstual
Hubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari anak,
lingkungan rumah, sekolah, dan budaya lokal.
Praktik: Belajar matematika melalui transaksi di
warung, belajar IPAS dengan mengamati sawah, sungai, kebun, atau lingkungan
sekitar.
3. Memanfaatkan
teknologi secara tepat guna
Gunakan teknologi bukan sekadar untuk membuat
pembelajaran terlihat modern, tetapi untuk memperjelas konsep dan memperkaya
pengalaman belajar.
Praktik: Video pembelajaran, kuis digital, simulasi
sederhana, presentasi interaktif, dan perpustakaan digital.
4. Mengoptimalkan
Artificial Intelligence (AI)
AI dapat menjadi asisten guru dalam menyiapkan
pembelajaran, bukan menggantikan keputusan profesional guru.
Praktik: Memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun ide
pembelajaran, membuat cerita kontekstual, merancang LKPD, membuat soal
bertingkat, dan menyiapkan rubrik asesmen.
5. Mengembangkan
pembelajaran aktif dan kolaboratif
Anak jangan hanya duduk, mendengar, mencatat, dan
menghafal. Berikan kesempatan untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, mencipta,
dan mempresentasikan hasil.
Praktik: Project Based Learning, Problem Based
Learning, eksperimen, permainan edukatif, dan diskusi kelompok.
6. Memperkuat
literasi dan numerasi
Era digital menuntut anak tidak hanya mampu membaca
dan berhitung, tetapi juga memahami informasi, menginterpretasikan data, dan
menggunakannya untuk memecahkan masalah.
Praktik: Membaca informasi digital, membandingkan
data, menafsirkan grafik, dan menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari.
7. Mengembangkan
kreativitas dan kemampuan berpikir kritis
Guru perlu membangun budaya bertanya, bereksperimen,
berpendapat, dan menemukan solusi.
Praktik: Tantangan merancang alat penyiram tanaman
sederhana, membuat poster hemat energi, atau mengembangkan solusi pengelolaan
sampah sekolah.
8. Menghadirkan
pembelajaran inklusif dan berdiferensiasi
Setiap anak memiliki kecepatan dan kebutuhan belajar
yang berbeda.
Praktik: Menyediakan materi dalam bentuk teks, gambar,
audio, dan aktivitas langsung. Berikan pendampingan sesuai kebutuhan murid.
9. Menguatkan
karakter dan etika digital
Anak harus belajar menjadi pengguna teknologi yang
bertanggung jawab, bukan sekadar pengguna yang mahir.
Praktik: Mengajarkan sopan santun digital, menjaga
privasi, tidak menyebarkan informasi palsu, menghargai karya orang lain, dan
menggunakan AI secara jujur.
10. Melakukan
asesmen dan refleksi berkelanjutan
Pembelajaran bermutu tidak hanya diukur dari nilai
akhir, tetapi juga perkembangan proses dan kompetensi anak.
Praktik: Asesmen diagnostik, formatif, sumatif,
observasi, portofolio, unjuk kerja, serta refleksi pembelajaran.

